Pada usia 5 tahun ibu mendaftarkan ku kesekolah TK (Taman Kanak Kanak). Ibu mengatarku sampai masuk kekelas. Dengan kesabaran yang luar biasa dia menunggu di pojok kelas sampai aku selesai belajar. Setelah keluar kelas dia menyambut dengan wajah gembira dan senyuman tulus dan ceria yang membuat hati bahagia.
Sampai di rumah aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaan yang dia selesaikan sendiri, sedangkan aku gembira dengan permainan yang diberikannya.
Setelah aku mulai besar aku sering meninggalkan ibu, Aku bermain-main bersama teman-teman, berpergian meninggalkanya. Aku tak peduli ketika ia sakit, boro boro untuk merawatnya menayakan saja, mana yang sakit aku tidak mau.
Di usiaku yang menanjak remaja aku sering merasa malu bila berjalan dengannya. Pakaian dan dandananya yang kuno ku anggap tidak sepadan dengan penampilanku yang trendi. Aku sengaja berjalan mendahuluinya, agar orang lain tidak beranggapan bahwa dia adalah ibu ku.
Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu tak pernah memikrkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semuanya untuk membelikan ku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik. Ia pakaikan perhiasan ditubuhku agar aku terlihat bermatabat dan tidak malu dan merasa rendah diri bila bergaul. Ku ketahui dia juga dengan rasa sabar, lembut dan kasih sayang mengajariku berjalan. Dia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, memggendong dan membasuh serta mengobati luka di kaki ku dan mendekabku erat-erat saat aku menangis.
Setelah aku tamat SMA aku memasuki dunia baru di Perguruan Tinggi. Aku semangkin jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan luas seringkali menggangap ibu orang yang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.
Usai Wisuda Sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan yang tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjana.
Meski ibu seorang yang tidak berpendidikan, tapi do'ahnya tulus , penggorbaan dan cintanya jauh melebihan apa yang sudah kuraih. Tanpa seorang ibu, aku tak akan pernah menjadi seperti sekarang ini
Pada hari pernikahan ku, ia menggandengku menuju pelaminan, Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukan, jauh lebih indah dari keindahan sennyum calon suamiku.
selsaai akad nikah ia langsung menciumku saat aku bersimpuh. Saat itulah aku menyadari. ia juga yang pertama memberikan kecupan hanggat dan tulus.
Sekarang ketika tumbuhnya mulai melemah ia membutuhkan pertolongan, aku pergi meninggalkannya karena aku sudah menikah.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tangga, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menayai kabarnya. Aku sanggat ingin menjadi seorang isteri yang baik dan taat kepada suami, hingga aku lupa kepadanya. Tetapi ibu tak pernah mengharapkan balasan apapun jua dari ku, Hanya disetiap khabar yang ku terima darinya, ibu dalam keadaan baik-baik saja dan mendoahkan kami, semoga aku dan suamiku berbahagia.
Kini aku telah melahirkan seorang bayi yang munggil diasaat ini pula aku menyadari dan merindukan ibu, tetapi apa daya, kudengar khabar bahwa ibu telah tiada. Tanggisan ku dan bayi ku yan baru lahir menyatu memecah kesepian mengiringi ibu menghadapi ilahi. Kini aku, suamiku serta anakku hanya bisa melihat pusaran ibu. Maafkan aku ibu karena aku tidak bisa membahagiakanmu semoga ibu berbahagia di sisi Sang pencipta. Amin ya ALLAH. Kunyakin ibu sekarang telah berbahagia meninggalkanku.
Terimakasih ibu.
Saya tidak bisa menyimpulkan cerita ini, Mohon kepada pembaca untuk menggomentarinya.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar